Jumat, 16 Februari 2018

Faktor-faktor Eksternal Yang Mepengaruhi Pertumbuhan Tanaman


Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ada 2 hal. Pertama factor internal yang meliputi gen dan hormone. Kedua, factor eksternal yang meliputi air, cahaya, suhu, pH, kelembaban dan oksigen.
Faktor eksternal
1.      Air


                                          Gambar 1. proses penyiraman  tanaman secara berkala
Pada pertumbuhan primer, media tumbuh tanah tidak mutlak yang terpenting adalah media tumbuh yang mudah menyerap air. Media tumbuh yang keras akan sulit menyerap air sehingga biji tidak dapat bertunas. Air merupakan senyawa yang sangat penting dalam menjaga tekanan turgor dinding sel, fungsi air dalam tumbuhan adalah:
a.       Menentukan laju fotosistesis
b.      Sebagai pelarut universal dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
c.       Menentukan proses transportasi unsur hara yang ada di dalam tanah, dan
d.      Mengedarkan hasil-hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan.

2.      Kelembaban

                                Gambar 2. Butiran air yang keluar dari stomata daun di pagi hari

Kelembaban adalah kandungan total uap air di udara. Kondisi kelembaban yang tinggi dan tidak banyak penguapan akan membantu ketersediaan air tetap berada di sekitar tanaman sehingga sel-selnya akan dapat menyerap air dalam jumlah yang banyak dan menjadi lebih panjang.

3.      Cahaya
Pada dasarnya cahaya matahari langsung sangat menghambat pertumbuhan, sebab intensitas cahaya tinggi akan menguapkan air tanah dalam jumlah banyak sehingga akar tidak cukup menyerap air. Selain itu, cahaya akan menghambat kerja hormone auksin, di mana hormone Auksin akan berubah menjadi senyawa yang menghambat pertumbuhan apabila terkena cahaya.


                         Gambar 3. Penyinaran cahaya matahari sepanjang hari

Cahaya matahari sangat mempengaruhi  tumbuhan berdaun hijau karena cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis tumbuhan. Fotosintesis tumbuhan adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan ketersediaan energy untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
 Cahaya matahari juga mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan yang tumbuh di tempat gelap akan tumbuh secara cepat. Peristiwa pertumbuhan yang sangat cepat ditempat gelap disebut etiolasi. Keadaan ini terjadi karena tidak adanya cahaya dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Dampak dari peristiwaitu tubuh tumbuhan menjadi tidak normal, daunnya berwarna kuning, lebar dan tipis, batangan kecil, sangat panjang, berwarna kuning, dan lemah. Sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh di tempat terang tumbuh lebih lambat dengan kondisi relative pendek, daun berkembang baik, dan warna hijau. Hal ini dikarenakan pengaruh auksin di hambat oleh cahaya matahari (Taylor D.J, 1997:212).

4.      Suhu
Tingginya suhu dan banyaknya intensitas penyinaran selalu berbanding lurus sehingga untuk pertumbuhan primer dibutuhkan suhu relatif rendah, kelembaban tinggi, jumlah air yang relative cukup, dan sedikit cahaya. Suhu berpengaruh terhadap kerja enzim-enzim yang membantu metabolisme, di mana metabolism sangat mendukung pertumbuhan. Suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tingkat tinggi berkisar antara 0˚ C hingga 45˚ C. Di antara kisaran tersebut, suhu untuk pertumbuhan berbeda-beda. Contohnya, berbagai kultivar gandum (Triticum vulgare) dapat tumbuh pada kisaran mendekati 0˚ C hingga 45˚ C. Namun pertumbuhannya akan optimal pada kisaran suhu 20˚ C - 25˚ C. suhu optimum untuk pertumbuhan jagung (Zea mays) berkisar antara 30˚ C - 35˚ C. sebenarnya, suhu optimum pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan berkaitan dengan asal wilayah jenis tumbuhan tersebut. Tumbuhan yang berasal dari wilayah tropis memerlukan suhu yang relative lebih tinggi dibandingkan tumbuhan yang berasal dari daerah sub-tropis atau kutub.

5.      pH
Derajat keasaman/ kebasaan (pH) yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan adalah pH tanah. Faktor pH tanah sangat ditentukan oelh jenis tanah. Misalnya, tanah padsolik merah kuning (PMK) memilii pH yang bersifat asam. Agar tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, maka pH jenis tanah tersebut diturunkan dengan cara pengapuran.

6.      Oksigen
Oksigen merupakan factor pembetas pada organisme. Kondisi ini juga berlaku bagi pertumbuahn dan perkembangn tumbuhan. Konsentrasi oksigen sangat ditentukan oleh medium tempat tumbuhan berada. Bagian akar tumbuhan memerlukan aerasi yang baik untuk mendapatkan oksigen yang cukup. Dengan dasar itulah, maka sering petani menggemburkan tanaman mereka secara berkala. Aerasi yang baik mampu meningkatkan proses respirasi akar untuk mengedarkan unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah ke bagian daun.

7.      Garam mineral (Nutrisi)

Tumbuahn memerlukan nutrisi untuk kelangsungan hidupnya. Nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak disebut unsur makro (makro nutrient). Unsur makro misalnya karbon, oksigen, hydrogen, nitrogen, sulfur, kalium, kalsium, fosfor dan magnesium. Sebaliknya, nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan dalam jumlah yang sedikit disebut unsur mikro (mikronutrien). Contoh unsur mikro adalah klor, besi, boron, mangan, seng, tembaga, dan nikel. Kekurangan nutrient di tanah atau media tempat tumbug hidup menyebabkan tumbuhan menjadi tidak tumbuh dan berkembang dengan sempurna.  


Daftar Pustaka
Susilowarno, R. G., dkk., 2007. Biologi SMA/MA kelas XII. PT.Grasindo, Jakarta.

Kamis, 15 Februari 2018

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
A.    PERKECAMBAHAN
Pertumbuhan pada tanaman diawali dengan proses perkecambahan setelah biji mengalami masa dormansi. Masa dormasi adalah peristiwa istirahat atau biji tidak aktif melakukan aktivitas pertumbuhan, biasanya pada musim kemarau karena kekurangan air. Sementara itu, perkecambahan adalah peristiwa munculnya tanaman kecil (plantula) dari dalam biji.
Peristiwa perkecambahan biji diawali dengan proses penyerapan air oleh biji yang disebut imbibes. Masuknya iar kedalam biji memacu aktivitas hormone giberelin untuk memacu butir-butir aleuron untuk mensintesis enzim alfa amylase  dan protease. Terbentuknya kedua enzim tersebut akan memacu pemecahan amilum dan protein dan endosperm menjadi glukosa dan asam amino yang akan menjadi substrat untuk metabolism (respirasi).
Berdasarkan asal factor-faktor yang menstimulasi perkecambahan dapat dismpulkan bahwa air, suhu, oksigen, dan kelembaban sebagai factor eksternal, sementara enzim dan hormone sebagai factor internal mempengaruhi kecepatan perkecambahan.
Biji dapat berkecambah membentuk plantula karena di dalam biji mengandung embrio. Embrio atau lembaga tumbuhan mempunyai tiga bagian, yaitu: radikula (akar lembaga), kotiledon (Daaun lembaga), dan Kulikulus (batang lembaga).


                            Gambar 1. Proses fisiologis biji pada awal perkecambahan

Radikula merupakan calon akar yang tumbuh membentuk akar dan akan menembus biji kearah liang biji. Pada Poaceae/ Graminae akar lembaga mempunyai selubung kar lembaga yang disebut Koleoriza.
Kotiledon merupakan calon daun yang pertama yang tumbuh dalam proses prkecambahan. Kenampakan fisik daun lembaga kelihatan tebal karena berfungsi sebagai penimbun cadangan makanan selama proses perkecambahan. Selain itu, daun pertama ini berfungsi juga untuk melakukan fotosintesis serta sebagai alat pengisap makanan untuk embrio yang dilakukan pada bagian yang berbentuk perisai dan berupa selapis tipis yang disebut skuletum.
Kalulikulus atau batang lembaga adalah calon yang akan tumbuh menjadi calon batag bagian atas yang berada diatas kotiledon yang disebut epikotil dan bagian bawah calon batang yang dibawah kotiledon yang disebut hipokotil. Epikotil selanjutnya akan tumbuh membentuk batang dan daun, sedang hipokotil akan tumbuh membentuk pangkal batang dan akar. Ujung dari epikotil yang akan membentuk daun mempunyai pucuk lembaga yang disebut plumulae. Plumulae diselubungi oleh suatu selput yang disebut koleoptilum.
Berdasarkan letak kotiledon pada saat perkecambahan secara alamiah, perkecambahan dibedakan menjadi dua, yaitu perkecambahan epigeal dan perkecambahan hypogeal.
1.      Perkecambahan epigeal
Perkecambahan tipe epigeal adalah perkecambahan yang ditandai degan terangkatnya kotiledon ke atas permukaan tanah sehingga bagian hipokotil dapat terlihat diatas permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini dapat dilihat pada perkecambagan kacang hijau.
2.      Perkecambahan Hypogeal
Perkecambahan tipe hypogeal adalah perkecambahan dimana kotiledon tidak dapat terangkat ke atas permukaan tanah sehingga hipokotil tidak tampak di atas permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini dapat dilihat pada kacang kapri dan jagung.
                


                           Gambar 2. Perkecambahan epigeal (a), dan Perkecambahan Hypogeal

B.     PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Pertumbuhan mahluk hidup diartikan sebagai peristiwa pertambahan volume yang mencakup pertambahan jumlah sel, volume sel, jenis sel maupun substansi yang terdapat di dalam sel yang bersifat kuantitatif (dapat dihitung dengan angka) dan irreversible (tidak dapat kembali seperti semula). Contoh peristiwa pertumbuhan adalah pertambahan tinggi dan besar batang tumbuhan.
Perkebangan adalah proses terspesialisasinya sel menuju kebentuk dan fungsi tertentu yang mengarah ketingkat kedewasaan yang bersifat kuantitatif (tidak dapat dinyatakan dengan ukuran angka) dan irreversible. Contoh perkembangan pada tumbuhan adalah tumbuhan yang menghasilkan bunga sebagai alat reproduksinya

Pertumbuhan dan perkembangan berjalan simultan, artinya berjalan bersama-sama secara sejajar dan saling mendukung untuk mencapai tingkat kedewasaan. Kecepatan pertumbuhan pada tumbuhan dapat diukur dengan alat yang disebut auksanometer.

Daftar Pustaka
Susilowarno, R. G., dkk., 2007. Biologi SMA/MA kelas XII. PT.Grasindo, Jakarta.

Kamis, 31 Agustus 2017

Laporan Anatomi Gandarusa Justicia gendarussa Burm.f


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
            Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan preparat dan sediaan mikroskopis pada umumnya disebut sebagai mikroteknik. Teknik-teknik pada pembelajaran mengacu pada cara pembuatan prepat itu sendiri. Pengamatan dan penelaahan tersebut umumnya menggunakan bantuan mikroskop karena pada objek yang akan diamati berupa organ tumbuhan yaitu akar, batang, dan daun pada tumbuhan monokotil dan dikotil.
            Angiospermae atau tumbuhan biji tertutup memiliki ciri-ciri yaitu bakal biji selalu diselubungi bakal buah, memiliki organ bunga yang sesungguhnya, terdiri dari tumbuhan berkayu atau batang basah, sistem perakaran tunggang atau serabut, batang bercabang atau tidak, serta kebanyakan berdaun lebar, tunggal atau majemuk dengan komposisi yang beranekaragam, demikian juga dengan pertulangannya. Angiospermae memiliki dua subdivisio yaitu dicotyledoneae dan monocotyledoneae, mencakup sekitar 300 familia atau lebih dari 250.000 spesies. Di antara familia tersebut yang ditemukan di berbagai lokasi adalah rumputrumputan dengan jumlah 7500 spesies (Dewi, dkk, 2013).
            Tumbuhan dicotyledoneae adalah tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini meliputi terna, semak-semak, perdu maupun pohon-pohon. Akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok (akar tunggang) yang bercabang-cabang membentuk sistem perakaran tunggang. Tumbuhan monoctyledoneae adalah tumbuh-tumbuhan yang tergolong dalam kelas ini kebanyakan berupa pohon-pohon, batangnya berkayu, dan bunga berkelamin tunggal (Tjitrosoepomo, 2013).            Hal ini yang melatarbelakangi dilakukan percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan

            Tujuan dari dilakukannya percobaan ini, yaitu:
1.     Mengetahui perbedaan anatomi akar tumbuhan dikotil berdasarkan preparat melintang yang diamati.
2.     Mengetahui perbedaan anatomi batang tumbuhan dikotil berdasarkan preparat melintang yang diamati.
3.     Mengetahui perbedaan anatomi daun tumbuhan dikotil berdasarkan preparat melintang yang diamati.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
            Percobaan untuk pembuatan preparat melintang akar dilaksanakan pada hari Jum’at, 17 Maret 2017. Percobaan untuk pembuatan preparat melintang batang dilaksanakan pada hari Jum’at. 31 Maret 2017. Percobaan untuk pembuatan preparat melintang daun dilaksanakan pada hari Jum’at, 7 April 2017, pukul 14.00-17.30 WITA. Bertempat di Laboratorium Botani, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Angiospermae atau tumbuhan biji tertutup memiliki ciri-ciri yaitu bakal biji selalu diselubungi bakal buah, memiliki organ bunga yang sesungguhnya, terdiri dari tumbuhan berkayu atau batang basah, sistem perakaran tunggang atau serabut, batang bercabang atau tidak, serta kebanyakan berdaun lebar, tunggal atau majemuk dengan komposisi yang beranekaragam, demikian juga dengan pertulangannya. Angiospermae memiliki dua subdivisio yaitu dicotyledoneae dan monocotyledoneae, mencakup sekitar 300 familia atau lebih dari 250.000 spesies. Di antara familia tersebut yang ditemukan di berbagai lokasi adalah             rumput- rumputan dengan jumlah 7500 spesies (Dewi, dkk, 2013).
            Akar merupakan bagian organ tumbuhan yang terdapat di dalam tanah. Akar tumbuh dan berkembang di bawah permukaan tanah. Bentuk dan ukuran sangat bervariasi, disesuaikan dengan fungsinya masing-masing. Berdasarkan asalnya, akar dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu akar primer dan akar adventif. Akar primer adalah adalah akar yang berasal dari calon akar (radikula) pada embrio. Akar primer akan membentuk akar tunggang yang mampu mengadakan pertumbuhan sekunder dengan percabangannya, sedang akar adventif tidak mengadakan pertumbuhan sekunder (Ningsih, 2015).
            Jaringan penyusun akar adalah epidermis merupakan lapisan terluar, korteks dan silinder pusat. Jaringan penyusun akar tumbuhan yang mengadakan pertumbuhan sekunder berbeda dengan akar yang tidak mengadakan pertumbuhan sekunder. Akar yang mengadakan pertumbuhan sekunder karena aktifitas kambium, menyebabkan terbentuknya jaringan-jaringan sekunder sehingga terjadi perubahan struktur di bagian stele (Ningsih, 2015).
            Epidermis merupakan lapisan terluar akar, sel-selnya tersusun rapat tanpa ruang antar sel. Pada kebanyakn akar, epidermis berbanding tipis. Rambut-rambut akar berkembang dan sel-sel epidermis yang khusus, dan sel tersebut mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel epidermis, dinamakan trikoblas. Trikblas sendiri berasal dari pembelahan protoderm. Epidermis akar yang berfungsi untuk penyerapan serta bulu-bulu akar mempunyai kutikula yang tipis (Ningsih, 2015).
            Dinding sel epidermis beragam bentuk pada tumbuhan yang berbeda dan ditemmukan dibagian yang berlainan pada tumbuhan yang sama. Pada biji, sisik, dan beberapa macam daun seperti daun Coniferae, dinding sel epidermis amat tebal serta berlignin. Sebagian besar eipidermis terdiri dari sel yang boleh dikatakan tak terspesialisasi. Sel epidermis memiliki protoplas hidup dan dapat menyimpan berbagi hasil metabolisme. Sel mengandung plastid yang memiliki grana sedikit saja sehingga tidak membentuk klorofil. Dalam plastid ditemukan pati dan protein, sedangkan dalam vakuola ditemukan asntosianin (Pranita, 2010).
 

















Gambar 1. Jaringan epidermis akar
Sumber : modul botani farmasi, 20115
            Bagian akar yang berbatasan dengan batang disebut leher akar. Struktur anatomi leher akar rumit untuk setap jenis tumbuhan berbeda-beda. Epidermis, korteks, endodermis, pesikel, dan jatingan pengangkut sekunder merupakan jaringan yang berhubungan langsung dengan jaringan yang sama pada batang. Namun jaringan pengangkut primer akan mengalami perubahan di leher akar. Perubahannya adalah pada xilem mengalami perputaran, pergeseran berkasnya, baik secara perlahan-lahan maupun secara mendadak. Leher akar mempunyai diameter yang lebih besar dari pada akar atau batang akibat adanya pembelahan, perputaran, dan penggabungan xilem dan floem (Ningsih, 2015).

Gambar 2. Tiga macam tipe perubahan struktur berkas pengangkut dan akar ke batang
Sumber : Modul botani farmasi, 2015

     Ada tiga tipe perubahan struktur dan akar ke batang (Ningsih, 2015), yaitu:
1.         Tipe I, berkas xilem berputar dan bergabung tanpa perputaran.
2.         Tipe 2. Berkas xilem berputar, berkas floem terbelah dan bergeser untuk bergabung lagi di sisi lain.
3.         Tipe 3. Berkas xilem terbelah, kemudian berputar dan belahan itu bergabung dengan belahan dan berkas lain, membentuk berkas baru, berkas floem tidak mengalami perubahan.
            Pada kebanyakan akar korteks terdiri atas sel-sel korteks yang mengalami diferensiasi bertambah, sebelum terjadi vakuolisasi dalam sel tersebut. Pada beberapa akar beberapa tumbuhan air, sel-sel korteks tersusun teratur. Sel-sel korteks sering mengandung tepung, kadang-kadang Kristal. Dibawah epidermis sering terdapat selapis atau dua lapis sel berdinding tebal disebut hipodermis atau eksodermis. Lapisan terdalam dari korteks akar terdiferensiasi menjadi endodermis. Pada sel endodermis yang muda dijumpai adanya penebalan dinding suberin yang berbentuk pita, mengelilingi dinding sel, disebut pita capsary (Ningsih, 2015).

Gambar 3. Irisan melintang akar muda
Sumber : Modul botani farmasi, 2015

            Stele, bagian ini dipisahkan dari korteks oleh endodermis. Lapisan terluar yang berbatasan dengan korteks adalah perisikel. Perisikel berfungsi untuk menghasilkan primordial akar lateral, dan sebagian dan kambium pembuluh (yang menghasilkan floem dan xilem sekunder). Sel-sel perisikel seperti halnya meristem apikal, bersifat diploid. Perisikel kadang-kadang terdiri lebih dari satu lapis sel, berdinding tebal. Xilem pada akar tedapat dibagian luar atau mengumpul di bagian tengah, membentuk bangunan seperti bintang pada irisan melintang, jika xilem terdapat di bagian luar maka bagian tengah terdapat empulur           (Ningsih, 2015).
            Pada pertumbuhan primer struktur akar dikotil mempunyai persamaan dengan akar monokotil. Tumbuhan dikotil yang berbentuk perdu tidak mengalami pertumbuhan menebal sekunder. Pertumbuhan sekunder pada akar disebabkan oleh aktifitas kambium pembuluh (vaskuler). Kambium pembuluh berasal dari sel-sel parenkim yang berada disebelah dalam berkas floem. Kambium terbentuk, sel-sel perisikel juga mengalami pembelahan. Kedua kelompok sel ini kemudian membentuk kambium yang lengkap. Perisikel juga berperan dalam pembentukan jaringan gabus setalah kambium gabus primer selesai membentang           (Ningsih, 2015).
Gambar 4. Struktur anatomi akar dikotil
Sumber : Modul botani farmasi, 2015

            Pada waktu perkecambahan, radikula terus tumbuh menjadi akar primer, dan akar primer ini terus tumbuh dan bercabang-cabang. Fungsi utamanya adalah untuk menyimpan makanan. Sistem akar ini terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) dan tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae). Sistem akar tunggang hanya ditemukan pada tanaman yang berkembang biak secara generatif (melalui biji) (Ningsih, 2015).
            Selama perkembangannya, ukuran sel-sel korteks yang mengalami diferensiasi bertambah, sebelum terjadi vakuolisasi dalam sel tersebut. Pada beberapa akar tumbuhan air, sel-sel korteks tersusun teratur. Sel-sel korteks sering mengandung tepung, kadang-kadang kristal (Ningsih, 2015).
Gambar 5. Akar dikotil
Sumber : Modul botani dan farmasi, 2015
            Pada batang dikotil muda terdapat tiga daerah yaitu epidermis, korteks, dan stele. Epidermis terdiri dari selapis sel dan merupakan bagian terluar batang. Pada epidermis terdapat stomata dan beragam tipe trikoma. Dinding luar menebal dan mengalami kutinisasi. Sel-sel epidermis rapat dan tidak memiliki ruang antara sel. Epidermis berperan dalam mencegah transpirasi dan melindungi jaringan dari kerusakan mekanis dan penyakit (Nurlailah, 2010).
            Daerah di sebelah dalam epidermis adalah korteks, dan pada bagian dalam korteks dibatsi oleh perisikel. Korteks dibagi menjadi dua daerah yaitu daerah kolenkim dan daerah parenkim. Kolenkim menempati posisi di bawah epidermis, dan parenkim di sebalah dalam kolenkim. Stele terdiri atas perisikel, berkas vaskuler dan empulur. Berkas vaskuler tersusun melingkar. Masing-masing berkas terdiri atas xilem, kambium, dan floem. Pada bagian tengah batang dikotil tersusun atas jaringan parenkim yang memiliki ruang antar sel dan disebut empulur (Nurlailah, 2010).





Gambar 6. Batang dikotil
Sumber : bahan ajar biologi, 2010
            Daun dikotil ditutupi kedua permukaannya masing-masing oleh selapis epidermis. Dinding luar epidermis biasanya tebal dan dilapisi substansi berlilin yang disebut kutin. Permukaan luar epidermis seringkali dilapisi kutikula yang menyebabkan air tidak dapat melewati epidermis dan transpirasi bisa berkurang, hanya sejumlah kecil air yang menguap melalui transpirasi. Epidermis juga mencegah masuknya patogen ke bagian dalam daun. Fungsi lain dari epidermis adalah melindungi jaringan internal yang lunak dari kerusakan mekanis. Pada daun tertentu pada daun xerofit, sel-sel epidermal memanjang secara radial dan mengalami lignifikasi (Amprasto, 1996).
            Pada lapisan epidermal terdapat stomata. Stomata paling banyak ditemukan pada permukaan bawah daun dorsiventral. Stomata sedikit atau jarang pada permukaan atas dan bahkan tidak ada sama sekali. Pada daun yang terapung, stomata terdapat pada permukaan atas. Pada daun yang tenggelam, tidak ada stomata (Amprasto, 1996).
            Stomata dikelilingi dua sel penutup. Sel-sel penutup merupaka sel hidup dan mengandung kloroplas. Sel penutup ini yang mengatur membuka menutupnya stoma. Letak stomata tersebar pada permukaan daun (Amprasto, 1996).
Gambar 7. Daun dikotil
Sumber : bahan ajar 1996
            Tanaman gandarusa berupa perdu yang tumbuh tegak dengan tinggi 0,8-2 meter. Batangnya berbentuk segi empat tumpul atau cukup bulat, berkayu, bercabang, beruas, berwarna coklat kehitaman, dan mengkilap. Daunnya berwarna hijau tua terletak saling berhadapan, berupa daun tunggal yang berbentuk lanset dengan panjang 5-20 cm, dan lebar 1-3,5 cm. Tepi daun agak menggulung keluar dengan ujung daun meruncing. Bunganya majemuk tersusun dalam rangkaian berupa malai atau bulir yang menguncup, berambut, menyebar, dan keluar pada dari ketiak daun atau ujung percabangan (Pernawati, 2008).
            Mahkota bunga berbentuk tabung, berbibir dua, dan berwarna putih. Buahnya berbentuk bulat panjang, berbiji empat, dan licin. Perbanyakan tanaman dilakukan dengan stek batang (Pernawati, 2008).
            Tanaman ini mempunyai beberapa nama ilmiah yaitu besi-besi (Aceh), gandarusa, tetean, trus (Jawa), handarusa (Sunda), ghandharusa (Madura), gandarisa (Bima), dan puli (Ternate). Di negara lain disebut sebagai gandarusa, termenggong melela, urat sugi (Malaysia), bog u (China), kapanitolut (Filipina), chiang phraa mon (Thailand) (Pernawati, 2008).
Klasifikasi
Regnum           : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Sub Divisio     : Angiospermae
Classis             : Dicotyledoneae
Ordo                : Euphorbiales
Familia            : Euphorbiaceae
Genus              : Justicia
Species            : Justicia gendarussa Burm.   
Sumber            : Tjitrosoepomo, G, taksonomi tumbuhan. 2013
`           Tanaman ini tersebar di daerah tropis misalnya di Pakistan, India, Sri Langka, Indo-China, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Di Indonesia dapat ditemukan di Jawa, Ambon, dan Ternate yang tumbuh baik pada ketinggian 1-500 m dari permukaan laut.  Tanaman gandarusa berupa berupa semak yang ditanam sebagai pagar hidup atau tumbuh liar di hutan, tanggul sungai atau dipelihara sebagai tanaman obat (Pernawati, 2008).
            Bagian tanaman yang digunakan adalah daun dan akar baik yang segar atau yang telah dikeringkan. Daunnya berkhasiat untuk mengatasi rematik sendi, nyeri pinggang (encok), memar, keseleo, gangguan haid, demam, peluruh dahak, peluruh keringat, pencahar, nyeri lambung, batuk, dan asma. Akarnya dimanfaatkan untuk mengurangi rasa sakit, peluruh air seni, peluruh air keringat, pencahar, penyakit kuning, radang sendi, demam, dan diare (Pernawati, 2008).
           
           






Gambar 8. Tanaman Gandarusa
Sumber : Google.com

            Tanaman gandarusa mengandung senyawa alkaloid, alkaloid merupakan golongan steroid yang merupakan hormon seks yang berfungsi mengatur fungsi-fungsi organ reproduksi. Saponin merupakan senyawa glikosida triterpen dan sterol. Ikatan sterol dalam senyawa saponin merupakan ikatan steroid yang terdapat dalam hormon steroid, termasuk dalam kelompok steroid yang mempunyai sifat penghambat spermatogenesis (Rusmiatik, 2013).
            Golongan steroid merupakan precursor hormon estrogen yang salah satu kerjanya pada otot polos uterus, yaitu merangsang kontraksi uterus. Estrogen dapat menurunkan sekresi FSH pada keadaan tertentu akan menghambat LH (reaksi umpan balik) sehingga dapat mempengaruhi populasi (Rusmiati, 2013).
            Flavonoid merupakan substansi poliphenolik yang terdapat dalam sebagian besar tanaman. Kombinasi multiple grup hidroksil, gula, oksigen, dan grup metal membentuk beberapa kelas dari flavonoid yaitu flavonols, flavones, dan flavan. Isoflavon merupakan flavonoid yang bertindak sebagai fitoestrogen yang banyak berguna bagi kesehatan. Flavonoida dan isoflavonoida adalah salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan (Rusmiatik, 2013).
          Senyawa isoflavon terdistribusi secara luas pada bagian-bagian tanaman, baik pada akar, batang, daun, maupun buah, sehingga  senyawa ini secara tidak disadari juga terdapat dalam menu makanan sehari-hari. Bahkan, karena sedemikian luas distribusinya dalam tanaman maka dikatakan bahwa hampir tidak normal apabila suatu menu makanan tanpa mengandung senyawa flavonoid. Hal tersebut menunjukkan bahwa senyawa flavon tidak membahayakan bagi tubuh dan bahkan sebaliknya dapat memberikan manfaat pada kesehatan        (Rusmiatik, 2013).













BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
            Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, pinset, toples, silet, jarum besi, objek gelas, kaca preparat, mikroskop, pensil, dan handphone.

III.2 Bahan

            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, akar, batang, dan daun gandarusa Justicia gendarussa Burm., empulur ubi kayu Mannihot utilissima, aquades, kuteks bening, gliserin, selotip bening, dan label.

III.3 Cara Kerja
            Cara kerja dari percobaan ini yaitu:
1.     Alat dan bahan disiapkan.
2.     Akar, batang tumbuhan Gandarusa Justicia gendarussa melintang dan daun gandarusa diiris melintang dan membujur tumbuhan dengan silet setipis mungkin dengan bantuan empulur dari batang ubi kayu.
3.     Hasil irisan pada objeck glass, diteteskan air secukupnya, lalu ditutup dengan deck glass.
4.     Diamati preparat di bawah mikroskop dengan mengatur cahaya, titik fokus, dan perbesaran sehingga mendapatkan gambaran anatomis dari organ tumbuhan.
5.     Kuteks bening dioleskan di sekitar deck glass untuk mencegah adanya kontak dari luar dan agar preparat awet dan melekat.
6.      Pada preparat diberikan label dan disimpan ditempat yang baik dan aman.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
IV.1.1 Akar Dikotil
    
 








Keterangan :
1.     Empulur
2.     Endodermis
3.     Floem
4.     Xilem
5.     Lapisan berambut





IV.1.2 Batang Dikotil
   1
 

3
 
  2
 

4
 
 









Keterangan :
1.         Floem
2.         Xilem
3.         Epidermis
4.        
3
 
Empulur (korteks)
IV.1.3 Daun Dikotil melintang


 






Keterangan :
1.         Epidermis atas
2.         Epidermis bawah
3.         Xilem
4.         Floem
5.         Stoma

IV.2 Pembahasan

IV.2.1 Akar Dikotil
            Pada pengamatan akar yang telah dilakukan terlihat bahwa akar gandarusa Justicia gendarrussa atau akar dikotil memiliki dua fase pertumbuhan. Pada pertumbuhan sekunder akar dikotil memiliki kambium vaskular dan kambium gabus, yang berasal dari sel-sel perisikel dan jaringan penghubung, dan akar dikotil memiliki empulur  yang sangat kecil.
IV.2.2 Batang dikotil
            Pada pengamatan preparat melintang batang, maka dapat dilihat bahwa batang dikotil terdiri atas epidermis, korteks, empulur, berkas pembuluh, xilem primer dan sekunder, floem primer dan sekunder dan kambium. Selanjutnya berkas pengangkutan (xilem dan floem) letaknya tersusun dalam lingkaran. 
IV.2.3 Daun dikotil
            Pada pengamatan preparat melintang daun dapat dilihat bahwa sistem jaringan dasar pada tumbuhan dikotil dapat dibedakan atas jaringan pagar dan bunga karang, Selain itu, pada tumbuhan dikotil, mesofilnya tersusun rapat, rapi tanpa adanya sel buliformis, dan susunan mesofil lebih teratur.

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka diperoleh :
1.         Pada akar dikotil, terbentuk kambium, serta korteks dan stele terdapat sekat pemisah.
2.         Pada batang dikotil berkas pembuluh tersusun secara teratur, diantara xylem dan floemnya terdapat kambium dan terdapat pemisah anatara korteks dan stele berupa endodermis.
3.         Pada daun dikotil, sel epidermisnya memiliki variasi berupa litosit yang sistolit. Adapun tipe stomatanya diasit.

V.2 Saran
            Sebaiknya sebelum membuat preparat terlebih dahulu dijelaskan secara detail perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil secara anatomi, agar praktikan dapat mendapatkan preparat yang jelas dan benar.






 
           
DAFTAR PUSTAKA
Amprasto, 1996, Bahan Kuliah FMIPA, Jurusan Biologi, UIN, Alauddin.

Dewi, R.C., Taib, N.E., 2013, Angiospermae Species Diversity In Biological Garden Seungko, Jurnal Bioma, Vol.2 (1).
                       
Ningsih, Yulia Indah, 2015, Anatomi dan Morfologi Akar,  Universitas Jember, Jember.

Nurlailah, 2010, Bahan Ajar Biologi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Permawati, Munif, 2008, Karakterisasi ekstraksi, FMIPA, Universitas Indonesia, Jakarta.

Pranita, R, Fitri, R.Y., Tri, A, Juwilda, dan Zeba, F.E., 2010. Epidermis Pada Tumbuhan, Univeristas Sriwijaya, Jawa.

Rusmiatik,  2013, Pemberian Ekstrak Daun Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.) Menghambat Proses Penuaan Ovarium pada Marmut, Tesis.

Tjitrosoepomo, Gembong, 2013, Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
























LAPORAN PRAKTIKUM                                    
MIKROTEKNIK TUMBUHAN

PERCOBAAN IV
PREPARAT AKAR, BATANG, DAUN, DAN STOMATA TUMBUHAN DIKOTIL

NAMA                                       : ST. RAFIKA S.ANGGRAINI J
NIM                                            : H411 15 005
KELOMPOK                            : I (SATU)
HARI/TGL. PERCOBAAN    : JUM’AT/17 MARET 2017
logo baru unhasASISTEN                                   :  SARTIKA SARI                                 

















LABORATORIUM BOTANI
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017